running text

Selamat Datang di Weblog Resmi SD Negeri Bandar Agung

Jumat, 24 Februari 2012

kumpulan puisi siswa

Pena Hitam

Ayam mencuat kokok di kala pagi
Sang mentari bangun meyejukkan hati
Membawa daku ingin mandi
Hasrat pun tak terbendung
Membawa maksud untuk mengepung
Berbagai ilmu yang menggunung
Ke sekolah daku berangkat
Tak lupa tas aku angkat
Pena hitam pun ikut mangkat
Dan kugoreskan dengan singkat
Daku ingin dapat cepat
Tidak mau dengan lambat
Pena hitam mengubah nasib
dengan makrifat.



Sepak bola

Begitu senang aku bermain
hingga waktu sampai aku lupakan
Berlari, menyerang, menyerbu lawan
membawa bola lari masuk ke gawang
Oh, sepak bola siapa gerangan engkau mencipta
Keberadaanmu membawa angin segar dunia
Semangat didalammu membawakan kobaran gelora
Oh, sepak bola apa dikata engkau tiada
dunia sepi!, sunyi !, suram !
bak kota mati yang ditinggal pergi
                       
               Sajak Untuk Tidur

Hai kawan waktu sudah beranjak malam
Ayo kita tidur, mata sudah mulai sayu
Sang mata sudah berbisik berkata
pejamkan aku, aku mau tidur teman !
Bersiaplah untuk berlomba esok hari
Pak guru sudah menanti
Ilmu baru pun akan di dapati
Selamat tidur kawan, pejam, pejamlah sang mata.
Besok kita akan bertempur

               Sepertiga Akhir Malam

Kubuka pintu depan rumah
Kusaksikan langit begitu berkilauan
Dihiasi gugusan bintang
Hati pun nampak senang
Sungguh udara dan pikiran begitu lengang
Di sepertiga akhir malam
Kulawan dan kukalahkan udara dingin
Air wudlu pun menembus membasahi kulitku
Dalam sujudku kupanjatan doa kehadiratMu
Jadikanlah bangsa ini,
Bangsa yang aman ,tenteram
dan sejahtera
Bangsa yang menghidupkan
akhir sepertiga malam itu
                       
              Taman Surga

Saat tatapan mata memandang lepas
Wujud ciptaanNya di dunia
Berdegup hati ini berkata,
Sungguh mempesona tak ada duanya
Ku bayangkan dan kuresapi siapa gerangan
Membuat sama sedemikian rupa
Hati semakin berdegup seraya menangis
teringat dan terngiang, seperti apa
taman surga berada
Meratap dan menangis kembali hati ini
Mengingat janji Tuhan
Hanyalah mereka manusia pilihan
Yang jauh dari perbuatan nista dan angkara murka
Yang akan menjadikan mereka penghuni taman surga
kekal selamanya
Oh, Tuhan walau seribu jalan berliku
Berikanlah petunjukMu pada langkah kaki ini
Agar hambaMu termasuk ke dalam golongannya

            Mentari

Hai mentari pagi
Hari ini kau datang tampak cerah sekali
Engkau datang tiap hari
Untuk sumber energi pribumi
Semua orang berlari pagi
Untuk menyehatkan diri
Tanpa kau, hai mentari
Di seluruh bumi ini
Akan mati tiada lagi

Pengemis-Pengemis Kecil

Ditengah persimpangan warna warni
Di banyak kerumunan besi berasap
Tersaksikan tangan tangan kecil menengadah
Meminta belas kasihan pada sang raja jalanan
Bertalu talu berada di bawah mentari
Menahan hausnya rintihan hati
Mengharap ada yang memberi
Tak pernah lusuh walau dilakukan setiap hari
Sungguh, membenakan hati dirimu itu terlukiskan
Namun siapa gerangan bisa berbuat
Tuk’membalikkan telapak tangan
tentang keberadaanmu itu berada

              Indah Nian Desaku

Kulihat sawah membentang
Warna hijau bagai permata alam
Ku coba telusuri jalan
Akankah tetap begitu ?
Kuingin tetap begini
Terlihat apa adanya
Kuingin tetap begitu
Terlihat kenyataannya
Mentari mulai tenggelam
Dan…akupun tetap disini
Menikmati alam yang ada
Anugrah dari yang kuasa
Oh…..alam desaku
……aman dan damai
Oh…..alam desaku
……lestarikanlah

Berteman Dengan Gempa

Seribu jalan di bumiku itu telah merekah
Laut pun juga ikut tumpah
Manusia Indonesia menggeliat
Menggeliat ke angkasa dan ke dalam bumi
Rumahpun ambil bagian tuk beterbangan
Bagaikan burung yang mengangkasa
di udara lepas
Nuansa jauhari bumi Indonesia pun
menghilang ditelan kejamnya keuatan alam
Apa yang akan kau tangisi ?
Bila memang begitu adanya
Apakah bubur itu
bisa kau jadikan nasi ?
Tidak !, Sang Khalik memang sudah
menakdirkan semua harus terjadi
agar kita bertaulan, dan tidak berseteru
dengan Sang Gempa.

Berguru Pada Semut

Hitam, merah berjalan merayap
Menyelinap mencari celah
Mencari makan.
Hitam dan merah tak pernah gerah
Menjunjung makanan bersama sama
Membawa masuk ke istana raja.
Berpesta bersama dalam semangat
yang tetap mempesona.

Istana Langit

Memandang ke angkasa lepas
biru,putih bahkan abu-abu
warnamu menampakkan
Tak terbayang jika manusia
berpijak di atasnya
Apa yang akan dirasa,
senang, gembira pasti bahagia disana.
Memang manusia tak berhak tinggal
Apalagi tidur di istana langit
Hanya Tuhan sang pencipta alam
Yang menguasai jagad raya,
Yang bersemayam didalamnya
Untuk mengatur kehidupan ini
sampai kiamat nanti tiba

Andaikan Boleh Meminta

Teringat pesan ibu di hari minggu
saat bus aku tunggu
Dik, jika ayah pulang
kamu ingin apa ?
Aku tidak menjawab, diam
Dik, kamu mau apa ?
Aku masih diam, tak menjawab
Dan ibu pun bosan bertanya
Saat duduk di atas bus tua yang pengap
Aku tetap tak menjawab
Aku hanya bicara pada ibu aku ingin
belaian kasih sayang ayah dan ibu
sampai matahari terbit dari barat

Dialah Batu

Besar, kecil,hitam dan putih
engkau menampakkan
Orang akan memukulmu bila kau
membangkang
Dan kau dilempar ,bila orang itu kesal
Sungguh malang keberadaanmu
Hanya tukang batu yang mengerti kamu.

Sinar Mentari Pukul Sepuluh Pagi

Pukul sepuluh pagi aku berdiri
berjalan dan lalu berlari,
di bawah sinar mentari.
Panasnya menusuk kulitku,
dan menyilaukan mataku,
namun tenang menembus hatiku.
Ingin ku utarakan semua
biar dunia tahu,
aku bangga sebagai makhlukNya!
Terima kasih,Tuhan
Kau masih biarkan aku terbangun hari ini
Kau masih ijinkan hidungku bernafas hari ini
Kau masih memberikanku hidup hari ini
Sehingga aku masih dapat menikmati
karuniaMu yang terindah
dalam permata yang terus bersinar

Aku ingin sehat

Badan kurus kering kerontang
tak nafsu makan
Bagaikan bunga-bunga kering
yang beterbangan
Pagi hari yang indah
Harus bangun tanpa gundah
Tinggalkan kelana
Memutar badan berolahraga
Minum dan makan membahana
Menggapai tubuh sehat maha sempurna

Puzzle Ajaib

Di tempat teduh nan rindang
bersama teman ku belajar
Bila ku bosan dan lelah
Puzzle ajaib ku mainkan
Memutar otak ke kiri dan ke kanan
Meski pusing namun asyik
dan pintar ku dapatkan
Puzzle ajaib teman baik ku
Selalu setia menemaniku
Dalam langkah langkah kecilku
Menggapai impian yang masih
saja termangukan

Mendera Sakit

Dua bersaudara laki –laki semua
Meratap kepedihan di tengah perjalanan usia
Tak menahu kenapa tidak terjadi pada semua
Menahan keluh setiap saat
Karena hidup bersemayam menyatu
dengan mala yang tak kunjung sirna
Dia mengerti bahkan memahami
Tuhan adalah adil dan tak akan
menyirnakan harapan di batas sisa umurnya
yang terus berjalan
Keinginan satu yang terus merayap di tubuhnya
Dia tak ingin terlalu lama
berseteru dengan mala itu
Bahkan tetap meminta
mohon syafaatNya
tuk menjulangkan citanya
di atas sisa umur yang terberi

Irama Nusantara

Meliuk, membentang, dan menggejola
Perihalmu menampilkan
Pabila satu, pabila dua, pabila tiga
Itu pastilah berbeda
Sedikit orang yang memperlihatkan
Apalagi mengerti perihalmu beda itu
Tak sedikit darah yang ditumpahkan
ataupun harta dikobarkan
Tuk menebus gejolak iramamu itu
Memang hanya satu yang dapat
meredam ,meluluh, bahkan menyirnakan
Pabila persatuan tertancapkan di irama nusantaramu


             Lurus Tajam

Berkelok-kelok itu
pasti ada yang ke kiri dan ke kanan
Namun bila lurus
takkan pernah menemuimu
baik kiri maupun kanan
itulah hendaknya ditempuh
Singkat, cepat, dan ringan,
Lakukanlah bila ingin menemui-Nya

              Puisi Dari Bunda

Bunda hanya sedikit mengarang puisi untukku
Tapi semakin lama kuamati
Seyuman bunda adalah puisi
Tatapan bunda adalah puisi
Teguran bunda adalah puisi
Belaian dan doanya adalah puisi cinta
Yang disampaikan padaku
Tak putus putus
Tak putus putus
Bahkan bila kutidur

             Tuhanku Aku Mengadu

Aku kecil di kala dulu berada
Tak satupun tahu hasrat yang kusimpan
Di saat waktu terus berputar
Di kala usia bertambah angka
Tuhan bolehkah aku bicara padamu ?
Sekarang aku sudah besar
Detik demi detik kulewati bersamaMu
Senang dan sedih kulalui dengan mengenalMu
Tuhan aku punya hasrat
HambaMu punya timbunan cita –cita
Wujudkanlah di kala aku besar nanti
Tuhan, ku percaya engkaulah pengatur jagad raya
penentu segala takdir ini

             Mu’jizat Di Atas Doa

Segudang harapan manusia
tersimpan dalam kata – kata
Terpanjatkan bersama untaian suara
yang berisi harapan tuk kehidupan
Untukmu para siswa Indonesia,
untaian harapanmu tersimpan dalam doa.
Terus dan teruslah berdoa
mendekatlah kepada sang pencipta
Kuasa ada bersamaNya
Tak perlu kau resah
pabila harapan tidak terwujudkan
Janganlah berputus asa dan tetap berdoa
karena doa adalah mu’jizatNya

            Alamku Surgaku

Zamrud khatulistiwa, kau adalah surga
Fenomena alam Indonesia begitu menawan
Orang Arab sering berkata
oh Indonesia, ini adalah surga dunia,
tempat tak ada dua di dunia
Namun mengapa alam surgaku mulai hilang
mulai terkikis oleh hingar – bingarnya dunia
dan juga kejamnya nafsu manusia
Oh Tuhan janganlah kau ambil alam surgaku
dan sadarkanlah kami untuk membelainya dengan penuh kasih sayang

             Alam

Mengapa engkau tak tersenyum cerah
Manusia, hewan, tumbuhan
menantimu setiap nafas
Alam, janganlah marah
janganlah engkau bosan
Engkau tempat berpijak semua makhluk.
Alam janganlah kau enggan bersahabat
dengan semua makhluk
terutama manusia di dunia
Kalau memang manusia berbuat dosa
tunjukkanlah yang terbaik ya Allah.
Mohon ampun segala dosa….
Bencana gempa di mana-mana
Membuat manusia harus ingat kepadaMu

             Kemerdekaan Indonesia

Aku bisa tertawa
Aku bisa bergaya
Aku bisa berpesta
Aku bisa tamasya
Karena Indonesia telah merdeka
Kemerdekaan yang mahal harganya
yang tak dapat diukur dengan harta
sekalipun segunung, sepulau bahkan sebenua
Kini kewajibanku sebagai anak bangsa
Belajar tekun untuk membangun bangsa
Agar nanti menjadi negara yang kaya raya
Aku ingin….
Pahlawan yang telah gugur dahulu
dapat tertawa lega melihat anak cucunya bahagia
Mereka dapat tidur nyenyak di sisi-Nya

               Kekeringan

Di daerahku mengalami kekeringan
Pepohonan mulai layu dan daun berguguran
Debu-debu beterbangan
Orang orang pun kebingungan
Pohon besar di hutan sudah jarang
Air hujan pun menghilang
Terjadilah kemarau panjang
Di sana sini mencari air
Kami bersyukur punya sumur masih air
Orang-orang datang untuk meminta air
Kuberi dengan ikhlas lahir batin
Itu anugrah dari Sang Maha Adil.

             Rumah Impian

Rumahku……
Sawah hijau terbentang luas
Gunung-gunung menjulang tinggi
Yang selalu menemaniku di kala pagi
Rumahku …..
Sungai nan jernih sungguh mempesona
Padang rumput penuh canda ria
bocah-bocah gembala
yang selalu membuatku terpesona
Namun…..
Kemanakah rumahku itu ?
Hilang dalam waktu sekejab
Berganti dengan pabrik-pabrik penuh asap
Oh…. Apa ini hanya impian ?
Walaupun ini hanya impian aku tetap akan terpesona

               Cahaya Dunia

Di tengah kegelapan yang gulita
Di antara orang-orang yang merambat mencari pegangan
Di tengah orang tak tahu arah tujuan
Di antara gulung-gulung ombak samudra yang siap
menenggelamkan.
Datanglah dewa penolong tepat saatnya
Gemerlap sinar membahana ke seluruh dunia
Kegelapan dunia sirnalah, berganti remang-remang
dan kini jadilah terang benderang
Kini semua orang jadi tahu
mengapa, untuk apa, dan dari mana hidup ini terjadi
Semua orang akhirnya hanya bersujud di hadapan Illahi
yang telah menciptakan langit dan bumi
Terima kasih para kyai yang telah mengajarkan kitab suci
Terima kasih para bapak ibu yang sabar mendidik kami
Terima ksih orang tuaku yang kujadikan teladan sejati
Kaulah penerang duniaku yang abadi

             Bangunlah Ibu Pertiwiku

Kami saksikan suasana luka lara
menerpa Ibu Pertiwi
Kami tak habis pikir
Apa gerangan engkau bersedih
Mengapa keadaanmu begitu mengkhawatirkan
begitu mencemaskan
Kami tahu kami begitu durhaka
Tak pernah berbakti kepadamu
Kerusakan, perpecahan, pertikaian
,banyak kami lakukan
Dan hanyalah maaf yang dapat kami pinta
Selagi engkau masih mau menerima
Di hati kami tak ada bisikan selain minta maaf ,
dan menyaksikan engkau bangun
melawan keruntuhan itu

               Bintang Masa Depan

Di tengah keheningan malam
Suasana begitu kelam dan mencekam
Terpancar pesona menawan
Seindah taman surga
Di malam itu kau tidak tidur
Kau hidup penuhi pesona langit
Terangi hamparan bumi
Keindahan dan kekuatanmu
Begitu sempurna menawan hati
Mencerahkan duka setiap insan
Andaikan aku bermimpi di kala itu,
perbolehkan aku bermimpi
untuk menjadi sepertimu
wahai sang bintang